Sejarah dan ragam gerak tari bosara

Tari bosara adalah tarian yang berasal dari Sulawesi Selatan, tari paduppa sendiri biasa ditampilkan untuk menyambut tamu, pada saat menarikan tari paduppa penari menggunakan baju bodo dengan aksesoris berupa rantai motif bunga, gelang, anting, hiasan rambut atau Bando
Tari paduppa dahulu kala ditampilkan di hadapan Raja saat upacara adat atau pesta perkawinan namun saat ini seiring dengan perkembangan zaman tari paduppa juga dapat ditampilkan Apabila ada acara kepariwisataan atau even khusus

Tari paduppa bosara

 memiliki makna bahwa orang Bugis apabila kedatangan tamu akan senantiasa menghidangkan bosara sebagai bentuk syukur dan kehormatan, bosara sendiri adalah piring khusus khas Bugis yang terbuat dari besi serta dilengkapi dengan penutup yang terbuat dari besi lalu dibalut dengan kain berwarna terang

Bosara biasanya diletakkan di atas meja makan saat rangkaian acara dan disuguhkan dengan kue-kue tradisional

Gerakan tari bosara

1. Gerakan kepala menyesuaikan gerakan tangan yang bergerak

2. Gerakan tangan seperti saat mengikat bosara

3. Gerakan badan ke kanan dan ke kiri mengikuti gerakan

4. Gerakan kaki berjinjit bergantian menyesuaikan hitungan

Saat Pementasan tari bosara dibawakan oleh penari perempuan dan memiliki jumlah ganjil serta memakai baju bodo, sarung yang terbuat dari sutra, anting,bando,gelang dan kalung

Musik yang digunakan merupakan musik khas Sulawesi Selatan dengan alat musik suling, gendang Makassar, kecapi dan pui-pui

Ragam ragam gerak tari paduppa

Gerakan tari paduppa dimulai dengan penghormatan kepada tamu ataupun mempelai pengantin, baru dilanjutkan dengan gerakan marellau doa atau minta doa kemudian penari duduk lalu meletakkan bosara pada tangan kanan kemudian ditarik sampai ke depan dada. ragam selanjutnya yaitu gerakan madduppa yang artinya menyambut. Maksud dari gerakan ini merupakan tanda penghormatan seseorang yang berkunjung atau memenuhi undangan, kemudian dilanjutkan dengan gerakan mampakaraja yang memiliki makna memuliakan tamu yang dianggap penting, selanjutnya adalah ragam mangampo atau menabur merupakan doa agar tamu yang datang diberikan keselamatan begitupun dengan mempelai serta keluarganya hingga acara selesai dan ragam terakhir adalah ragam massimang atau permisi kepada seluruh tamu dan sebagai tanda berakhirnya pertunjukan
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak